Wednesday, November 20, 2013

Ruang Bawah Tanah di Kantor Walikota Solo Bekas Freemason?


Pada era presiden Sukarno di tahun 1945-1950an, loji-loji Freemasonry oleh kaum pribumi Indonesia disebut pula sebagai “Rumah Setan” disebabkan ritual kaum Freemason selalu melakukan pemanggilan arwah orang mati.

Warga Solo atau kadang disebut Surakarta, di Jawa Tengah, digegerkan dengan penemuan ruang bawah tanah (bunker) di kompleks Balai Kota. Bunker itu berada tepat di bekas bangunan gedung Dharma Wanita, sekitar 30 meter dari bangunan kantor Walikota Solo.

Menurut Kepala Bidang Pelestarian Benda Cagar Budaya, Dinas Tata Kota Solo, Mufti Rahardjo, bungker itu bisa dipastikan dari dua sumber, primer dan sekunder.

“Sumber primer berasal dari testimoni orang-orang tua. Sedangkan sumber sekunder dari naskah-naskah peninggalan Belanda yang menguatkan keberadaan bungker,” kata Mufti di Solo, Rabu 8 Agustus 2012.

Meski telah menemukan lokasi bungker dan mendapat keterangan sejumlah sumber, hingga kini belum diketahui berapa luas bungker tersebut. Namun, Mufti yakin bangunan bungker itu sangat luas. “Karena dulunya Balaikota itu pusat kegiatan Belanda. Bisa jadi bungker itu untuk persembunyian, pertahanan atau fungsi-fungsi lain,” tuturnya.


Seorang pegawai walikota menunjukkan lokasi penemuan ruang bawah tanah (bunker) di kompleks kantor walikota Solo di Jawa Tengah.

Untuk memastikannya, Mufti mengaku telah melakukan studi internal yang melibatkan semua jajaran SKPD. “Besok kita akan koordinasi dengan Balai Arkeologi dan BP3 Jawa Tengah untuk melakukan ekskavasi,” ucap dia.

Dalam proses ekskavasi besok, lanjut dia, pihak BP3 Jawa Tengah akan membawa petugas khusus. “Penggalian akan dimulai besok sekitar pukul 09.00 WIB,” ujarnya.

Sebelumnya, bungker peninggalan Belanda juga pernah ditemukan di Kampoeng Batik Laweyan, Solo. Namun, belum juga diketahui fungsi bungker tersebut. Bungker tersebut ditemukan di kawasan permu****n warga dan kondisinya masih tertutup.

Jokowi Kaget
Mendengar temuan bunker tesebut, mantan walikota Solo yang kini menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi mengaku kaget.

Jika benar bunker itu merupakan cagar budaya, ia pun memerintahkan agar pembangunan dua gedung rencananya akan didirikan di atas tanah kosong itu akan digeser.

Meski selama dua periode berkantor di Balai Kota, Jokowi mengaku tak tahu keberadaan lubang persembunyian itu. Merasa penasaran, setelah mendengar informasi tersebut, ia menyempatkan diri untuk melihat langsung lokasi yang diduga sebagai tempat bunker.

“Kemarin sore saya sudah lihat. Tetapi kan belum terlihat wong masih menunggu hasil penggalian,” katanya, Kamis, 9 Agustus 2012.


Mantan walikota Solo yang kini sebagai Gubernur DKI Jakarta Raya, Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi

Atas dugaan adanya bunker tersebut, Jokowi pun mengaku pasrah. Pasalnya, rencananya di lokasi tersebut akan didirikan bangunan gedung PKK dan Dharma Wanita yang baru. Mengingat yang bangunan lama telah diratakan dengan tanah.

“Kita melihat dulu hasil dari penelitian Balai Arkeologi dan BP3 seperti apa. Apakah yang diduga bunker itu benda cagar budaya atau bukan. Pokoknya kita menunggu rekomendasi dari BP3,” ucapnya.

Kalau ternyata memang benar-benar bunker itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Maka rencana pembangunan gedung baru itu harus digeser. “Ya mau tidak mau harus digeser. Karena ini bagian dari konsekuensi dari sebuah komitmen untuk melindungi benda cagar budaya,” tegasnya.

Saksi Mata: Situasi Dalam Bunker

Seorang saksi hidup, Mujiyono Yuwono Saputro (82) warga Pasar Kliwon Solo, dalam kesaksiannya mengatakan bahwa di kompleks Balai Kota Surakarta memang terdapat sebuah bunker peninggalan kolonial Belanda. Bunker tersebut saat ini terkubur di bawah reruntuhan bekas bangunan gedung PKK Pemkot Surakarta yang sekarang telah dirobohkan.

Ia mengatakan, pada saat dirinya masih anak-anak, sering melihat tentara Jepang berlatih di bunker tersebut. “Dulu buat latihan tentara Jepang. Tapi bunker ini buatan Belanda . Kemudian pada tahun 1965, bunker tersebut difungsikan sebagai penjara bagi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menjadi tawanan,” katanya dikutip antara.

Mujiyono pun sempat memberanikan diri masuk ke bunker tersebut untuk pertama kali pada sekitar tahun 1947, saat ia masih berusia 16 tahun. “Dalamnya hanya ruangan kosong seperti aula dan sangat gelap,” katanya.

Ruangan tersebut memiliki panjang dari timur ke barat sekitar 15 meter dan lebar dari utara ke selatan sekitar 10 meter dengan ketinggian tiga meter. Bunker tersebut memiliki dua pintu di sebelah selatan bunker. Kalau masuk masih ada trap (tangga) sekitar dua meter tingginya.


Saat digali terlihat struktur semen ruang bawah tanah (bunker) di kompleks kantor walikota Solo di Jawa Tengah.

Kesaksian lain diungkapkan seorang warga lain, Heru Basuki (56) yang juga pernah masuk ke bunker tersebut. “Terakhir saya lihat masih ada bunker itu sekitar tahun 1965 atau 1966″. Sebelumnya, bunker tersebut sempat dijadikan tempat berenang anak-anak kampung sekitar karena selalu tergenang air saat hujan turun.

Menurut dia, waktu kecil banyak yang menyebut bunker ini sebagai gua londo (Belanda). Kondisi di dalam bunker itu sangat gelap.

Sama halnya dengan kesaksian Mujiyono, menurut Heru, bunker tersebut berukuran sekitar 15 kali 10 meter. “Dinding dan langit-langitnya seingat saya sudah diplester, bangunannya permanen,” ujarnya. Selain bunker tersebut, terdapat satu bunker lain yang terbuat dari kayu, namun saat ini bunker tersebut sudah hancur.

Kabar keberadaan bunker tersebut menarik perhatian seorang Arkeolog, Muhammad Kawari untuk meneliti. Kawari bersama lima rekannya termasuk petugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah berniat melakukan penggalian bunker peninggalan Belanda tersebut. “Langkah awal akan kita layout dulu sebelum kita lakukan penggalian,” katanya.

Sebagai langkah awal, timnya akan melakukan penjajakan medan selama lima hari dan menyusun laporan awal. Penggalian akan dilakukan dengan alat-alat tradisional dan tidak menggunakan alat berat agar tidak merusak keaslian bangunan bunker.

“Karena tanah yang menutup bunker sudah cukup tebal, kemungkinan penggalian akan membutuhkan waktu sangat lama,” katanya.

0 comments:

Post a Comment

 
equityworld futures pusat