Wednesday, November 6, 2013

Artikel TANAMAN BUAH MERAH DAN KHASIATNYA


(Sinar Papua)- Buah merah termasuk tanaman endemik. Secara umum habitat asal tanaman ini adalah hutan sekunder dengan kondisi tanah lembab. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar di wilayah Papua dan Papua New Guinea.
Tanaman ini termasuk terna berbentuk semak, perdu atau pohon. Tinggi tanaman dapat mencapai 16 m. Batang berwarna coklat bebercak putih. Akar tanaman berfungsi sebagai penyokong tegaknya tanaman, akar-akar tunjang muncul dari bagian batang dekat permukaan tanah berfungsi sebagai penguat batang, diameter akar antara 8 – 1,5 cm.
Tanaman buah merah berdaun tunggal berbentuk lanset sungsang (oblanceolate) berwarna hijau tua, letaknya berseling. Ujung daun runcing, pangkal daun memeluk batang. Permukaan daun licin, tepi daun ada yang berduri ada juga yang tidak berduri.
Di Papua terdapat lebih dari 30 jenis buah merah, tetapi ada 4 kultivar yang banyak dikembangkan yaitu :
1. Kultivar merah panjang, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dan pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 96 – 102 cm dengan diameter 15 – 20 cm. Bobot buah mencapai 7 – 8 kg. Warna buah merah bata saat muda dan merah terang setelah matang. Buah dibungkus daun pelindung berbentuk melancip dengan duri pada tulang utama sepanjang 8/10 bagian dari ujung.
2. Kultivar merah pendek, memiliki buah berbentuk silindris, ujung melancip, pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 55 cm, diameter 10 – 15 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Warna buah saat muda merah kotor dan saat matang berwarna merah terang. Buah terbungkus daun pelindung meruncing, dengand duri sepanjang ½ baian tulang utama.
3.  Kultivar merah coklat, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul, pangkal menjantung. Panjang buah 27 – 33 cm, diameter 6,9 – 12 cm, bobot 2 – 3 kg. Buah berwarna merah kecoklatan, tertutup daun pelindung meruncing, dengan duri sepanjang 2/3 dari tulang utama.
4. Kultivar kuning, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dengan pangkal menjantung. Panjang buah 35 – 42 cm, diameter 11 – 12 cm, bobot buah 2 – 3 kg.
Daun pelindung buah melancip. Tulang utama berduri sepanjang 1/3 bagian dari pangkalnya. Buah muda berwarna hijau dan bila matang berwarna kuning.
Di dalam buah terusun ribuan biji yang berbaris rapi membentuk kulit biji.
Panjang biji 9 – 13 mm. Bagian atas biji meruncing, pangkal biji menempel pada bagian jantung, sedangkan ujungnya membentuk totol-totol di bagian kulit buah. Biji berwarna hitam kecoklatan dibungkus daging tipis berupa lemak. Warna daging kuning, coklat atau merah bata, tergantung jenisnya.
Syarat Tumbuh
Buah merah termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di pada tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di daerah Papua dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut.
Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 - 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Buah merah menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.
Tanaman buah merah dapat tumbuh baik pada kondisi tanah lembab. Jenis tanah yang disukai adalah tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus. Tekstur tanah yang dikehendaki adalah liat lempung, tanah hitam tetapi gembur atau tanah berpasir. pH tanah yang dibutuhkan sekitar 5,4 – 6,2 dengan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation) rendah.
Budidaya Tanaman
Penyiapan Lahan
Lahan untuk budidaya buah merah dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab.
Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.
Penyiapan Bibit
Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Media tanam adalah campuran antara tanah topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1, media semai harus lembab. Lokasi persemaian terlindung dari sinar matahari langsung, sebaiknya berada di bawah pohon pelindung. Setelah ditanam bedeng semai ditutup dengan shadingnet 60 – 70%. Media semai disiram dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.
Setelah 1 – 2 minggu daun mulai muncul dan perakaran mulai terbentuk. Setelah 2 – 3 minggu dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dapat dipindahkan ke dalam polibeg. Bibit dapat ditanam di lahan setelah berumur 1 – 2 bulan.
Bahan tanam lain adalah anakan yaitu tunas yang keluar dari bagian batang dan perakaran tanaman. Anakan dipilih yang berukuran 15 – 20 cm. Setelah dipisah dari induk, anakan ditanam di bedengan yang telah disiapkan dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm. Media pada persemaian harus dijaga kelembabannya, disiram setiap pagi dan sore hari dan diberi shadingnet. Bibit dari anakan dapat dipindahkan ke lahan setelah mencapai tinggi 40 – 50 cm yaitu pada umur 3 – 4 bulan.
Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.
Media semai disiram sekali sehari. Setelah 2 – 3 bulan benih akan berkecambah.
Setelah bibit berukuran 5 – 10 cm sebaiknya dipindah ke polibag yang telah diisi media berupa campuran topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1. Tanaman di pembibitan diberi shadingnet 50 – 60% dan penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah mencapai tinggi 25 – 40 cm dengan diameter batang 2 cm.
Tanaman yang berasal dari biji akan berbuah setelah berumur 5 tahun, sedangkan tanaman yang berasal dari tunas akan berbuah kurang dari 3 tahun.
Penanaman
Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.
Pemeliharaan
Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama.
Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.
Panen dan Pascapanen
Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan.
Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen. Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.
Cara pembuatan sari buah merah adalah sebagai berikut :
1. Pilih buah yang benar-benar matang yaitu kulit buah berwarna merah menyala dan jarak antar tonjolan cukup jarang.
2. Buah dibelah, lalu dikeluarkan empelurnya, selanjutnya dipotong-potong, lalu dicuci dengan air hingga bersih.
3. Daging buah dikukus dengan api sedang sekitar 1 – 1,5 jam. Setelah matang, daging buah lunak, angkat dan didinginkan.
4. Tambahkan sedikit air, lalu diperas hingga menjadi seperti pasta. Saring pasta untuk memisahkan bijinya.
5. Pasta dimasak kembali dalam wajan selama 4 – 5 jam. Setelah mulai mendidih, pasta tetap dibiarkan di atas api selama 10 menit hingga muncul minyak berwarna kehitaman di atas permukaan pasta.
6. Angkat dan diamkan selama 1 hari. Minyak yang terbentuk diambil perlahanlahan dengan menggunakan sendok, pindahkan minyak ke wadah transparan seperti gelas atau mangkuk, lalu diamkan selama 2 jam hingga minyak dan air benar-benar terpisah.
7. Kemudian pisahkan minyak ke wadah lain dengan menggunakan sendok.
Diamkan lagi selama 2 jam. Jika sudah tidak ada air yang tercampur, berarti proses pengolahan sudah berakhir. Dari satu buah akan diperoleh sari buah merah sebanyak 150 – 200 ml.
Kandungan Kimia
Kandungan kimia buah merah adalah karotenoid (12.000 ppm), tokoferol (11.000 ppm), betakaroten (700 ppm), alfa-tokoferol (500 ppm), asam oleat 58%, asam linoleat (8,8%), asam linolenat (7,8%), dekanoat (2,0%), kalsium, fosfor, besi, vitamin B1, vitamin C dan nialin.
Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Efek farmakologis buah merah antivirus, antibiotik, antioksidan, penurun kadar kolesterol.
Beberapa penelitian yang menguji efek farmakologis buah merah antara lain:
• Ekstrak buah merah mempercepat penyembuhan penyembuhan luka yang telah diberi Candida albicans, Staphylucoccus aureus, dan Microsporum gypseum pada kelinci. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah meradh amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi (Prof. Dr. Elin Yulinah, 2005, JF FMIPA ITB).
• Hasil uji toksitas menunjukkan LD50 mencit jantan 2,687 g/kg bb. dan mencit betina 6,714 g/kg bb. Hal ini menunjukkan dosis buah merah yang banyak dianjurkan cukup aman (Dr. Yahdiana Harahap dan Dra. Syafrida Siregar Apt, 2005, JF UI).
Khasiat dan Cara Pemakaian
1. Kanker hati dan tumor otak
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum dua kali sehari masing-masing 1 sendok makan.
2. Tumor payudara
Bahan : Sari buah merah dan minyak ikan hiu
Pemakaian :
Sari buah merah dan minyak ikan hiu diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.
3. HIV/AIDS
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.
4. Stroke
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum satu kali sehari dengan dosis 1 sendok teh (Budi dan Paimin,2004).


Sumber: diperta.jabarprov.go.id (Seksi Perlintan Hortikultura Bidang Hortikultura Diperta Jabar)
Penulis:  Seksi Perlintan Hort
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah. Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan. Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina. Budidaya tanaman dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolaas Maniagasi sejak tahun 1983, dan atas jerih payahnya tersebut mendapatkan penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena. Kandungan dan khasiatAdapun penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah pertama kali dilakukan oleh peneliti dosen Universitas Cendrawasih di Jayapura yaitu Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker. Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata): Karoten (12.000 ppm), Betakaroten (700 ppm) dan Tokoferol (11.000 ppm). Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.[Wikipedia]

Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/2013/04/buah-merah-tumbuhan-asli-papua-yang.html
Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah. Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan. Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina. Budidaya tanaman dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolaas Maniagasi sejak tahun 1983, dan atas jerih payahnya tersebut mendapatkan penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena. Kandungan dan khasiatAdapun penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah pertama kali dilakukan oleh peneliti dosen Universitas Cendrawasih di Jayapura yaitu Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker. Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata): Karoten (12.000 ppm), Betakaroten (700 ppm) dan Tokoferol (11.000 ppm). Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.[Wikipedia]

Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/2013/04/buah-merah-tumbuhan-asli-papua-yang.html
Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah. Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan. Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina. Budidaya tanaman dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolaas Maniagasi sejak tahun 1983, dan atas jerih payahnya tersebut mendapatkan penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena. Kandungan dan khasiatAdapun penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah pertama kali dilakukan oleh peneliti dosen Universitas Cendrawasih di Jayapura yaitu Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker. Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata): Karoten (12.000 ppm), Betakaroten (700 ppm) dan Tokoferol (11.000 ppm). Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.[Wikipedia]

Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/2013/04/buah-merah-tumbuhan-asli-papua-yang.html
Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah. Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan. Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina. Budidaya tanaman dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolaas Maniagasi sejak tahun 1983, dan atas jerih payahnya tersebut mendapatkan penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena. Kandungan dan khasiatAdapun penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah pertama kali dilakukan oleh peneliti dosen Universitas Cendrawasih di Jayapura yaitu Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker. Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata): Karoten (12.000 ppm), Betakaroten (700 ppm) dan Tokoferol (11.000 ppm). Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.[Wikipedia]

Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/2013/04/buah-merah-tumbuhan-asli-papua-yang.html
Copyright © 2013 Papua Untuk Semua
WAMENA (JAYAWIJAYA) - Buah Merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah. Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan. Bagi masyarakat di Wamena, Buah Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan, kulit, dan meningkatkan stamina. Budidaya tanaman dipelopori oleh seorang warga lokal Nicolaas Maniagasi sejak tahun 1983, dan atas jerih payahnya tersebut mendapatkan penghargaan lingkungan hidup Kehati Award 2002. Buah ini banyak terdapat di Jayapura, Manokwari, Nabire, dan Wamena. Kandungan dan khasiatAdapun penelitian tentang khasiat pengobatan Buah Merah pertama kali dilakukan oleh peneliti dosen Universitas Cendrawasih di Jayapura yaitu Drs. I Made Budi M.S. sebagai ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih sempat mengamati secara seksama kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan desa-desa kawasan pegunungan Jayawijaya yang mengonsumsi Buah Merah. Pengamatan atas masyarakat lokal berbadan lebih kekar dan berstamina tinggi, padahal hidup sehari-hari secara asli tradisional yang serba terbatas dan terbuka dalam berbusana dalam kondisi alam yang keras serta kadang-kadang bercuaca cukup dingin di ketinggian pegunungan. Keistimewaan fisik penduduk lain yakni jarang yang terkena penyakit degeneratif seperti: hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker. Dengan meneliti kandungan komposisi gizinya, ternyata dalam ujud sari Buah Merah itu banyak mengandung antioksidan (kandungan rata-rata): Karoten (12.000 ppm), Betakaroten (700 ppm) dan Tokoferol (11.000 ppm). Di samping beberapa zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain: asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dekanoat, Omega 3 dan Omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktivitas sel T Helpers dan limposit. Suatu kutipan studi membuktikan konsumsi betakaroten 30-60 mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh dapat memperbanyak sel-sel alami pembasmi penyakit. Bertambahnya sel-sel alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker karena ampuh menetralisasikan radikal bebas senyawa karsinogen penyebab kanker. Dalam beberapa penelitian terbatas yang dilakukan I Made Budi dengan metode pengobatan langsung dengan Sari Buah Merah, peneliti mengungkapkan keberhasilan yang amat tinggi dalam upaya pengobatan yang dilaksanakan terhadap beberapa penyakit.[Wikipedia]

Lebih lanjut tentang berita ini klik: http://www.papua.us/2013/04/buah-merah-tumbuhan-asli-papua-yang.html
Copyright © 2013 Papua Untuk Semua

0 comments:

Post a Comment

 
equityworld futures pusat