Wednesday, October 2, 2013

Kontroversi Diet Deddy Corbuzier


 

Deddy Corbuzier. Orang banyak mengingat nama ini sebagai tukang sulap bertubuh tinggi besar, dengan penampilan agak seram. Dia kerap memberi bayangan hitam di sekitar kelopak mata, dan dahi. Rambutnya dulu panjang, dikuncir kebelakang, dan wajahnya terkesan lebih lebar.

Tapi sejak 2009, lelaki bernama asli Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo ini “menyulap” tubuhnya, dan membuat banyak orang tercengang. Perutnya kini tanpa balutan lemak. Bongkahan otot mencuat di lengan, dada dan paha, bagai hasil pahatan artis seni rupa.

Kepalanya kini dicukur plontos, dan kian menguatkan kesan torso ramping dan liat itu.“Dulu berat saya 100 kilogram, sekarang hanya 70-71 kilogram,” ujar Deddy.

Dulu Deddy suka risih dengan bentuk tubuhnya. Apalagi, sebagai magician, dia kadang harus tampil telanjang dada di panggung, atau di depan kamera. “Saya stres karena saya sadar tubuh saya tidak bagus.”

Tapi sekarang keadaan terbalik. Tanpa disuruh, ia begitu percaya diri melepas kemeja di atas podium. Kini ia memang punya kegiatan baru: berceramah tentang rahasia tubuh indah.

Lima bulan belakangan ini, Deddy rajin menyebarkan ajaran diet model anyar. Ia menyerukan revolusi cara melangsingkan tubuh. Kalau diet biasa kesannya tersiksa, maka Deddy menggoda para pemimpi tubuh indah dengan cara barunya itu. Tak perlu ribet hitung menghitung kalori.

Ia kapok dengan diet biasa. Lebih dari sepuluh tahun dia makan nasi beras merah dan dada ayam kukus. Hasilnya? Timbangannya berkisar di angka itu-itu saja. Lalu dia menemukan satu metode baru, yang disebutnya sebagai Obsessive Corbuzier’s Diet (OCD). Dia memadukan teknik Intermittent Fastingdan High Intensity Interval Training (HIIT).

Jasa Shaolin

Ide diet ini bermula tatkala Deddy berada di Hong Kong. Alkisah, dia bertemu dengan seorang lelaki yang menjadi sopir untuk mobil yang disewanya selama sepekan di negeri itu. Deddy ke Hong Kong dalam rangka memperdalam ilmu beladiri Wing Chun.

Tapi dia mendapat satu berkah lain. Sopir itu ternyata bekas biksu di kuil Shaolin, sebuah biara yang tersohor sebagai pusat ilmu kungfu di dunia. Yang membuat Deddy terpukau adalah lelaki itu tampak gesit. “Saya kira dia berumur 40 tahun,” ujarnya (lihat: Inspirasi Diet dari Kuil Gunung Shaoshi).

Dia penasaran oleh penampilan lelaki itu. Setelah bertanya, dia terkesiap begitu tahu lelaki itu berumur 70 tahun. "It’s impossible I think. Kemudian saya tanya bagaimana dia bisa mendapatkan itu," ujarnya berkisah.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, si bapak sopir itu akhirnya membocorkan resep awet mudanya: puasa dengan hanya makan satu kali sehari.

"Pulang ke Indonesia ide diet itu lenyap. Saya kembali berkutat ke diet lama saya dan kebodohan yang sama. Tak mau mengambil risiko untuk hal baru." Lima tahun kemudian ia baru tergerak mencari referensi soal puasa yang dilakukan sopir itu.

"Saya mencobanya. Here I am with eight packs stomach and going younger and stronger! Bigger with muscle.

Tapi soal makan sekali sehari, mantan Presiden BJ Habibie dikabarkan telah lebih dulu menerapkan. Rahasia awet mudanya adalah mengatur pola makan dan olah raga. Dia mengungkapkan hal itu pada suatu acara talkshow di Kuningan, Jakarta Pusat, di hadapan Aliansi Jurnalis Independen akhir Agustus lalu. Habibie hanya makan sekali dalam sehari. Setelah itu, dia banyak minum air putih, dan berenang tiga jam sehari.

Obsessive Corbuzier's Diet

Teori diet Deddy sebetulnya sederhana: menghindari makan pagi, dan mengatur jam makan.  Dia menyebutnya sebagai “jendela makan”.Selebihnya adalah puasa. Tapi bukan puasa total tanpa makan dan minum (lihat Infografik: Metode OCD).

Versi puasa Deddy adalah tak boleh memakan asupan apapun yang mengandung kalori. Demikian juga minuman, yang dilarang adalah minuman mengandung kalori. “Air putih, teh atau teh tanpa gula boleh,” ujarnya.

Pada dietnya, Deddy mengharamkan sarapan.  Ia yakin sarapan hanya akan menghambat pembakaran lemak. Sedangkan makan malam akan dibakar saat tidur hingga tidak akan menjadi masalah.

Soal “jendela makan” yang dimaksud adalah kebebasan memilih waktu puasa. Antara lain: puasa 16 jam dengan waktu makan 8 jam, puasa 18 jam dengan waktu makan 6 jam, dan puasa 20 jam dengan waktu makan 4 jam.

Artinya?

Selama 8, 6 atau 4 jam dalam sehari boleh makan apapun. Tanpa makan pagi setidaknya 3 jam setelah bangun tidur. “Jendela makan 8 jam, artinya Anda mulai makan jam 12 sampai jam 8 malam. (Sehari 3 kali makan) atau kalau Anda mulai jam 3 Anda bisa makan sampai jam 12 malam. Begitu seterusnya,” ujarnya. Kedengarannya jurus diet ini memang menyenangkan.

Deddy kini mengambil jendela makan yang lebih ekstrem: 24 jam. Jadi ia hanya makan sekali sehari, lalu stop sampai 24 jam berikutnya. Terdengar menyeramkan, tapi karena sudah biasa ia santai menjalaninya. Ia memilih makan malam hari. Misalnya, pada malam saat bertemu VIVAnews itu, menu Deddy adalah semangkuk sup daging sapi, seporsi nasi, ikan asam manis kurang lebih empat potong, sepuluh tusuk sate ayam lengkap dengan lontong, dan segelas air mineral.

Tapi apakah pola puasa 16, 18, 20, atau malah 24 jam aman untuk lambung? Deddy mengatakan tak masalah. Sebelum ia melakoni diet ini, ia punya maag akut. Tapi maag itu hilang begitu saja.

Deddy lalu mengutip temuan sebuah riset yang dilakukan Macdonald IA, Webber J pada tahun 1995. Bahwa 72 jam berpuasa, metabolisme tidak akan menurun, tapi justru meningkat. “Lewat dari 72 jam baru metabolisme menurun.”

Teori lain yang dianutnya adalah dari Hippocrates. Bapak kedokteran dari zaman Yunani kuno itu mengatakan puasa adalah juga obat alamiah bagi tubuh manusia. Itu sebabnya, memberikan makan orang sakit sama dengan memberi makan kepada penyakitnya. “Jadi kalau sakit kenapa dipaksa makan,” ujarnya.

Dengan diet ini Deddy mengaku berat badannya bisa turun empat kilogram dalam sepekan.

Olahraga

Mengimbangi dietnya, ia olahraga seminggu tiga kali. Angkat beban selama 20 menit. “Saya tidak pernah treadmill dan cardio”.

Terjawab mengapa tubuh bagian atasnya kini tampak kekar dan berotot. Lelaki yang identik dengan pakaian serba hitam ini juga membantah jika ototnya yang menyembul didapatkan dari steroid. Efek dari penggunaan steroid dikatakannya membuat tubuh menggemuk terlebih dulu, sebelum akhirnya kurus. Ini tidak terjadi padanya.

“Kalau saya pakai steroid, badan saya akan lebih besar dari ini”.

Apapun kata orang, sepertinya Deddy tak peduli. Ia cukup puas saat putranya memuji soal penampilan barunya ini. Di rumah dia memang senang bertelanjang dada. “Dia bilang, papa kaya The Rock di WWF Championship,” jelasnya sambil tersenyum. WWF Championship merupakan ajang gulat di Amerika, dan The Rock salah satu pemainnya (lihat Wawancara Deddy Corbuzier: "Kematian Terbesar Itu karena Obesitas").

Tak hanya putranya, rekan-rekannya di dunia hiburan pun ikut kagum. Sebut saja Ciko Jericho, Irgi Fahrezi, penyanyi cantik, Vicky Shu, Olla Ramlan, Sarah Sechan, dan Yuanita Christiani.

Yuanita baru satu bulan menjalankan OCD ini. Dia mengakui diet cara Deddy itu lebih praktis. Tidak perlu pusing memilih makanan dan menghitung  kalori yang masuk. Hanya ada masalah di awal diet."Waktu pertama kali puasa, waktu buka gue langsung rakus. Alhasil mual karena lambungnya kaget kali ya," ujarnya tertawa.

Sejak itu ia memperbaiki pola makan. Ia mulai dengan dua keping biskuit dan jus buah. Baru disusul makan besar satu jam kemudian. Hasilnya, berat badannya turun dua kilogram. Padahal sebelumnya ia sudah mengunjungi slimming center, akupuntur, dan mengonsumsi nasi merah.

Kontroversi

Sambutan atas gaya diet Deddy ini memang luar biasa. Misalnya, e-book meteode diet itu dibagikannya gratis lewat www.readyforfit.com. Dalam tempo singkat situs itu telah dikunjungi lebih dari tujuh juta orang. "Yang mau pasang iklan juga sudah banyak banget. Yang toko buku minta diterbitkan juga banyak. Tapi semua saya tolak. Dan ini saja sudah jadi kontroversi,” ujar Deddy.

Lalu, apa kata pakar kesehatan soal jurus diet pesulap itu? Ahli strength and conditioning untuk atlet, dr. Phaidon L Toruan menyebut bahwa OCD hanya berorientasi membuat tubuh menjadi kurus, bukan pada kesehatan. Menurut Phaidon dengan menyebutkan boleh makan apapun, artinya dalam diet ini karbohidrat bisa didapat dari mana saja, termasuk dari lemak trans yang sudah terbukti tidak sehat. Sehingga jika metode diet ini diterapkan dan berhenti, kemungkinan besar berat badan akan kembali naik.

Bukan hanya soal itu, diet yang mengabsenkan sarapan ini juga memiliki efek buruk pada tubuh. Efek yang paling jelas adalah kerja otak yang menjadi tidak maksimal. Meskipun begitu dr Phaidon mengakui beberapa menu sarapan memang dapat memperlambat metabolisme, seperti yang pernah diungkapkan oleh Deddy.

"Kalau sarapannya dengan menu yang tidak sehat seperti nasi goreng. Memang benar. Tapi kalau sarapannya dengan menu sehat, seperti roti gandum atau buah itu efeknya bagus sekali untuk kerja otak jadi maksimal," ujarnya.

Soal kontroversi itu, reaksi Deddy datar saja. Ia sudah menjelaskan dalam e-book bahwa semua teori diet tidak ada yang salah atau benar. Masing-masing  ada kelebihan dan kekurangannya.

Seperti metode OCD itu. Sebelum menyebarkan kepada publik, dia telah menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan, dan rupanya cocok. Tapi Deddy juga tak mau sembarangan. Di dalam e-book itu, misalnya, Deddy menganjurkan pengikut dietnya lebih dulu berkonsultasi ke dokter. Memastikan apakah diet itu cocok atau tidak.

Untuk soal ini Phaidon membenarkan. Dokter yang juga dikenal sebagai pakar gaya hidup sehat ini menyatakan diet jurus Deddy belum tentu bisa diterapkan pada orang lain.

Sebelum melakukannya, perlu ditilik gaya hidup Deddy. Ia sudah terbiasa menjalani olahraga berat. “Tidak sulit baginya untuk berolahraga ketika puasa. Deddy juga merokok, jelas lebih mudah menahan lapar dalam waktu lama,” ujar Phaidon.

Tapi Deddy tak ingin membahas argumen itu. Ia menyebut dirinya hanya ingin berbagi ilmu, dan rahasia diet. Untuk itulah dia sibuk bertandang dari satu kota ke kota lain buat memenuhi undangan seminar soal OCD.

Yang lebih menarik, dietnya juga memukau Menkokesra Agung Laksono. Deddy mengatakan dia baru saja dipanggil untuk mencanangkan gerakan Indonesia bebas obesitas.

Soal obesitas ini, Menteri Agung patut gusar. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, menyebutkan ada 11,7 persen warga Indonesia mengalami obesitas. Artinya sama dengan 27,7 juta jiwa dari jumlah penduduk Indonesia.

“Saya dipanggil untuk menerangkan OCD, dan mencoba mendesain program tersebut,” ujar Deddy.  Meski itu baru rencana,  Deddy tetap bangga. Ia berharap seruan dietnya bisa membantu gerakan itu. Setidaknya, ia dicanangkan di lingkungan Kementerian Kesra. “Penyebab kematian terbesar itu obesitas,” ujarnya.

Fakta lain yang membuat dia risau: risiko kematian dari penderita obesitas kini bahkan telah melampui korban narkoba. (np)

0 comments:

Post a Comment

 
equityworld futures pusat